Postingan

Menampilkan postingan dengan label Cerpen

Cerpen Suara Hati

Ketika Hati Bicara x Sore itu, tanggal 7 agustus 2007, matahari hampir tenggelam di ufuk barat. Burung-burung yang biasa terbang di siang hari, segera menuju sarangnya dan tugasnya mengisi angkasa nan luas digantikan oleh burung-burung malam. Kelelawar semakin banyak mengelepak keluar dari gua-gua atau atap rumah-rumah tua. Berpadu dengan suara tongeret yang melengking menjadi-jadi meneratas awang-awang dan suara jangkrik yang melengking setinggi langit. Suara adzan pun mulai menggema dan saling bersahutan antara satu masjid dengan yang lainnya. Orang-orang pun segera sadar bahwa hari telah maghrib menjelang malam. Berbagai macam aktivitas segera mereka hentikan. Ada yang segera mandi dan pergi ke masjid untuk melaksanakan shalat berjamaah, ada juga yang hanya berkumpul bersama keluarganya masing-masing. Akan tetapi tidak begitu dengan seorang pemuda yang duduk di kursi di teras belakang rumahnya   yang besar yang terletak di perumahan mewah itu. Namanya ...

Mustika, Engkaulah Gadis Itu

Hati… Sudah sangat lama tak ada yang mengisi hati ini. Entah kemana semua wanita itu. Apakah hati ini terlalu gersang seperti Gurun Sahara sehingga tak ada yang sudi singgah. Ataukah aku yang terlalu egois menutup rapat semua pintunya, semua jendelanya, sehingga membuat sang betina kesulitan memasukinya? Ataukah hatiku bagai rumah hantu yang membuat semua orang sebisa mungkin menjauhinya? Aku….. Entah…. Jawabannya aku pun tak tahu. Aku pun tak mau mengakui bahwa aku seorang yang sombong. Katanya aku memperlakukan wanita yang menyukaiku seolah-olah aku seorang raja. Ya, seorang yang merasa dipuja banyak wanita sehingga dengan seenaknya tak mempedulikan wanita. Tak mempedulikan apa yang mereka sebut dengan cinta. Akhirnya kebanyakan dari mereka berurai air mata. “Itu semua perbuatanmu! Itu semua kelakuanmu! Itu semua karena kau bedebah, lelaki tanpa perasaan!!!” Masa? Aku tak merasa! Kata orang aku seorang yang sangat pendiam dan cuek. Benarkah? Kata orang sepertinya tak ad...

Rejeki Yang Tuhan Pinjam

Hanya berupa seekor anak ayam. Lima rupiah yang dipinjam oleh Si Fulan. Lima rupiah lagi aku simpan di paman. Dan lima rupiah lainnya membusuk di koperasi. Sudah. Hanya itu saja yang aku punya saat ini. Betapa sedikit rezekimu itu.  Sebenarnya banyak. Sangat banyak. Terlihat sedikit itu karena tidak kuhitung berapa liter udara yang tersedia berupa nafas yang aku hirup hari ini. Berapa banyak energi yang aku pakai untuk membuka kelopak mata, dimana banyak orang mati tidak lagi bisa membuka matanya. Berapa liter darah yang terus menerus mengalir di urat-urat nadiku. Berapa helai rambut menutupi kepala sebagai mahkotaku. Berapa Volt cadangan listrik dalam tubuhku. Berapa banyak lukisan indah yang kupasang di kedua bola mataku. Berapa banyak ide dalam otakku, dan lain-lain. Ah, kau memang pintar mengada-ada. Lalu dimanakah rezeki yang lain selain itu? Ada. Tapi tidak sedang bersamaku. Masih dipinjam. Dipinjam Tuhan. Kau malah bercanda lagi! Ya. Aku memang tidak sed...